Newsparameter.com | Bitung, Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL) 2025 kembali menghadirkan suasana semarak di Kota Bitung. Memasuki hari kedua pelaksanaan, festival tahun ini mengangkat tema besar “Harmony in Diversity” dengan subtema “Nature Day”, yang berfokus pada kepedulian terhadap alam dan lingkungan hidup sebagai fondasi pembangunan pariwisata berkelanjutan. Kamis, (09/10/2025).
Di hari pertama penyelenggaraan, FPSL 2025 mencatat prestasi membanggakan. Perputaran ekonomi di area kuliner dan UMKM menembus angka Rp100 juta, menandakan antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap kegiatan tahunan ini.
Bahkan, beberapa pelaku usaha kecil mencatat omzet hingga Rp10 juta dalam sehari, menjadi bukti nyata bahwa sektor ekonomi kreatif lokal kembali bergairah.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Bitung l, Pingkan Kapoh menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja kolaboratif antara pemerintah daerah dan pelaku usaha.
“FPSL bukan hanya ajang hiburan, tetapi motor penggerak ekonomi rakyat. Kita ingin UMKM tumbuh dan berdaya di tengah geliat pariwisata yang sehat,” ujar Pingkan.
Sementara itu, memasuki hari kedua, FPSL 2025 bertransformasi menjadi ruang aksi lingkungan dengan tajuk “Gerakan Wisata Bersih” yang digelar di kawasan wisata alam Batu Angus.
Kegiatan ini melibatkan Dinas Pariwisata, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung, BPDAS Tondano, dan BKSDA Sulawesi Utara, serta komunitas pecinta alam, penyelam lokal, dan relawan muda.
Gerakan tersebut diawali dengan kegiatan bersih-bersih pantai dan bawah laut, kemudian dilanjutkan dengan penanaman mangrove serta reef monitoring untuk memantau kesehatan terumbu karang.
Aksi ini menunjukkan komitmen nyata Bitung dalam menjaga ekosistem laut dan pesisirnya sebagai aset wisata unggulan.
Turut hadir Wali Kota Bitung, jajaran Forkopimda Plus, serta berbagai komunitas masyarakat yang antusias berpartisipasi.
Suasana penuh kebersamaan dan semangat gotong royong terlihat di sepanjang kegiatan, menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan kini menjadi bagian dari identitas warga Bitung.
“Gerakan Wisata Bersih ini adalah simbol kesadaran kolektif kita untuk memastikan laut dan pantai Bitung tetap terjaga. Pariwisata yang berkelanjutan dimulai dari kepedulian terhadap lingkungan,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Pingkan Kapoh menegaskan.
Selain kegiatan peduli lingkungan, FPSL 2025 juga menghadirkan berbagai lomba dan hiburan rakyat yang menarik perhatian pengunjung. Salah satunya adalah Lomba Tangkap Bebek, tradisi khas masyarakat Bitung yang berlangsung meriah di kawasan Batu Angus.
Tawa dan sorak-sorai peserta menciptakan suasana hangat yang mempererat kebersamaan warga dan wisatawan.
Di lokasi utama festival, Satrol Kodaeral VIII Bitung, juga digelar Lomba Fashion Show Pakaian Adat Bitung yang diikuti oleh anak-anak PAUD hingga SD se-Kota Bitung.
Acara ini dipimpin oleh Bunda PAUD Kota Bitung, yang memberikan apresiasi penuh kepada peserta cilik karena telah memperkenalkan keindahan budaya dan busana tradisional sejak usia dini.
Para peserta tampil percaya diri di atas panggung dengan balutan pakaian adat berwarna-warni, disambut tepuk tangan meriah dari ratusan pengunjung. Lomba ini menjadi simbol kebanggaan akan identitas budaya lokal sekaligus sarana edukasi bagi generasi muda untuk mencintai warisan leluhur.
Melalui kegiatan Nature Day, FPSL 2025 tidak hanya tampil sebagai ajang hiburan, tetapi juga wadah pembelajaran tentang pentingnya harmoni antara manusia dan alam. Bitung menunjukkan bahwa pembangunan pariwisata dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi lokal.
Dalam semangat Harmony in Diversity, FPSL 2025 menjadi bukti bahwa Bitung bukan sekadar kota bahari, tetapi juga kota dengan kesadaran ekologis dan ekonomi kreatif yang tumbuh berdampingan.
Festival ini meneguhkan komitmen bersama menuju Bitung yang berkelanjutan, hijau, dan penuh semangat gotong royong.(*)


















