NewsParameter.com|Banjar Negara — Dieng Culture Festival (DCF) 2026 menjadi salah satu ruang bagi pelaku UMKM Banjarnegara untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas pasar.
Keramaian pengunjung selama festival mempertemukan pelaku usaha dengan konsumen dari berbagai daerah. Kesempatan itu dimanfaatkan Mandiri Serayu, kelompok usaha perempuan asal Desa Tapen, Kecamatan Wanadadi.
Ketua Asosiasi Mandiri Serayu, Nangimah, mengatakan kelompoknya konsisten mengikuti DCF sejak 2014.
“Setiap tahun ikut. Sejak 2014 tidak pernah absen,” kata Nangimah, Minggu (30/8).
Menurut dia, DCF menjadi ruang penting bagi UMKM untuk mengenalkan produk secara langsung kepada konsumen. Apalagi, pengunjung festival datang dari berbagai daerah.
“UKM harus naik kelas. Pengunjung banyak, event-nya juga internasional,” ujarnya.
Sejumlah produk dibawa Mandiri Serayu ke stan. Mulai olahan pisang, mocaf, tahu, keripik tahu hingga berbagai jajanan.
Tahun ini, mereka juga memperkenalkan produk baru berupa selai salak. Produk tersebut dikembangkan dari salak Banjarnegara untuk memberikan nilai tambah pada komoditas lokal.
Pengembangan selai salak menjadi bagian dari kolaborasi Mandiri Serayu dengan Komunitas Sinergi Ekonomi Rakyat dan Kedaulatan Usaha (SERDADU).
SERDADU bergerak dalam advokasi ekonomi masyarakat, termasuk mendorong pengembangan usaha dan pemanfaatan potensi ekonomi lokal.
Anggota Mandiri Serayu, Yana Budiarti, mengatakan respons pengunjung terhadap produk yang ditawarkan cukup baik. Penjualan juga berjalan selama festival.
Pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari Banjarnegara dan daerah sekitar. Bahkan, produk Mandiri Serayu sempat dibeli wisatawan dari luar negeri.
“Ada yang mampir dari Prancis, beli keripik tahu,” kata Yana.
Menurut Yana, mengikuti DCF juga memberi pengalaman bagi anggota untuk belajar memasarkan produk secara langsung dan membangun jaringan.
“Melatih SDM untuk mempromosikan produk. Jalin kerja sama, dapat link dan kenalan baru. Branding lebih luas,” ujarnya.
Mandiri Serayu kini memiliki sekitar 60 anggota perempuan yang tersebar di 20 kecamatan. Kelompok tersebut menjadi wadah bagi perempuan untuk mengembangkan usaha dengan memanfaatkan potensi lokal.
Keikutsertaan Mandiri Serayu dalam DCF turut difasilitasi Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop UKM) Banjarnegara.
Mandiri Serayu merupakan salah satu kelompok binaan Disperindagkop UKM. Fasilitasi tersebut menjadi bagian dari upaya membuka ruang promosi dan pemasaran bagi produk UMKM lokal dalam kegiatan DCF.
Yana mengatakan kebutuhan operasional selama mengikuti kegiatan tetap disiapkan oleh kelompok.
“Kami tetap menyiapkan biaya operasional sendiri,” ujarnya.
Nangimah mengapresiasi pembinaan yang diberikan Pemkab Banjarnegara melalui Disperindagkop UKM. Menurutnya, pembinaan tidak hanya dilakukan melalui kegiatan pameran.
“Sudah ada pelatihan, dipertemukan dengan perbankan, sudah dibina rutin,” katanya.
Selain mengikuti pameran, Mandiri Serayu mulai memperkuat pemasaran melalui marketplace dan media sosial. Langkah tersebut dilakukan agar pemasaran produk dapat terus berjalan di luar kegiatan festival.
Yana berharap dukungan terhadap UMKM terus diperkuat, terutama dalam pemasaran dan akses permodalan.
Ia juga berharap produk UMKM lokal semakin mendapat ruang dalam berbagai kegiatan pemerintah maupun lingkungan ASN.
“Harapannya ada tempat khusus untuk pusat oleh-oleh,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan pusat oleh-oleh dapat menjadi ruang pemasaran produk UMKM Banjarnegara secara berkelanjutan.
Keterlibatan UMKM menjadi bagian dari pengembangan DCF 2026. Pemkab Banjarnegara menempatkan festival tersebut tidak hanya sebagai agenda budaya dan pariwisata, tetapi juga sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat.
Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana menyebut DCF sebagai ekosistem wisata berbasis masyarakat. Festival tersebut diharapkan ikut menggerakkan ekonomi masyarakat, memberdayakan UMKM, membuka peluang usaha dan menciptakan lapangan kerja.
Pada penyelenggaraan ke-16, berbagai produk lokal kembali mendapat ruang untuk diperkenalkan kepada pengunjung. Di antaranya carica, purwaceng, kopi, batik hingga kerajinan lokal.
Dampak ekonomi DCF juga terlihat dari penyelenggaraan sebelumnya. Pemkab Banjarnegara menyebut berdasarkan rilis Bank Indonesia, multiplier effect dari penyelenggaraan sebelumnya mencapai sekitar Rp50 miliar di wilayah Banjarnegara.
Sementara pada DCF 2026, Festival Kopi Dieng yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan mencatat transaksi sekitar Rp15 miliar.
Bagi pelaku UMKM, ramainya DCF bukan hanya menjadi kesempatan untuk berjualan. Pertemuan dengan konsumen baru, promosi produk dan terbentuknya jaringan usaha menjadi bagian dari upaya memperluas pasar produk lokal Banjarnegara.(*.) Firdaus /Red.


















