Newsparameter.com|Depok|Yayasan Al-Muttaqien Lembaga Mekarsari Lembah Hijau menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Sabtu (19/9/2026). Mengusung tema “Maulid Nabi Meningkatkan Semangat Ukhuwah Islamiah di Era Digitalisasi dan Pragmatisme Ummat”, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi dan kepedulian sosial di tengah perubahan pola interaksi masyarakat pada era digital.
Peringatan Maulid Nabi berlangsung khidmat sekaligus semarak dengan lantunan lagu-lagu Islami yang diiringi tim hadroh dari warga setempat. Kegiatan tersebut dihadiri penceramah Dr. KH. Rachmat Morado Sugiarto, Lc., M.A., jajaran pengurus yayasan, pejabat pemerintah setempat, serta ratusan warga sekitar.
Tema yang diangkat dinilai relevan dengan tantangan kehidupan masyarakat saat ini. Kemajuan teknologi digital memang mempermudah komunikasi dan memperpendek jarak, namun pada saat yang sama berpotensi mengurangi intensitas perjumpaan secara langsung dan mendorong pola kehidupan yang serba instan.
Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Cimanggis, Achmad Munandar, yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan komitmennya untuk terus membangun sinergi dengan berbagai elemen masyarakat.
“Alhamdulillah saya mendapatkan posisi baru di Cimanggis. Bagi saya, tugas dan kewajiban di mana pun pada dasarnya sama, tinggal bagaimana kita menjalaninya dengan penuh tanggung jawab dan rasa syukur,” tutur Achmad.
Silaturahmi Langsung Tetap Penting
Dalam tausiyahnya, Dr. KH. Rachmat Morado Sugiarto menekankan pentingnya menjaga tradisi silaturahmi secara langsung melalui masjid, majelis ilmu, dan berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Menurutnya, kemajuan teknologi seharusnya tidak menggantikan interaksi sosial secara langsung. Pertemuan tatap muka justru menjadi salah satu cara efektif untuk membangun kedekatan emosional dan memperkuat ukhuwah.
“Yang paling efektif adalah kita sering bertemu, bersilaturahim, duduk bersama, ngaji bersama, itu paling efektif. Tapi kalau kita hanya di dunia maya, ini bahkan justru akan merenggangkan,” ujar Rachmat.
Ia juga mengajak masyarakat untuk meneladani Rasulullah SAW dalam menghargai setiap manusia tanpa membedakan status sosial. Kepada generasi muda, ia berpesan agar mengisi waktu dengan berbagai kegiatan positif yang memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan.
Pesan serupa disampaikan Ketua Yayasan Masjid Jami Al-Muttaqien, Drs. H. Eddy Yahya, MM. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terlena dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan teknologi digital.
“Memang sekarang ini era digital lebih dominan, tapi jangan kita terlena. Kontak langsung itu lebih penting daripada sekadar memakai digital. Memang digital itu memperpendek jarak, tapi jangan sampai kita terpaku,” jelas Eddy.
Sementara itu, Bendahara Yayasan Masjid Jami Al-Muttaqien, Banar Setyo Mulyono, menyoroti pentingnya mempertahankan kepedulian sosial secara nyata di tengah budaya komunikasi yang semakin instan.
“Zaman sekarang penggunaan digital sering untuk hal instan. Contohnya, tetangga meninggal cukup dengan kirim pesan di WhatsApp. Ayolah kita tingkatkan silaturahim, gunakan ponsel untuk kegiatan positif seperti pengajian dan bukan menyebarkan kabar bohong (hoaks),” tegas Banar.
Maulid sebagai Ruang Mempererat Kebersamaan
Peringatan Maulid Nabi tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Salah seorang peserta, Hj. Nafilah, mengaku bersyukur dapat mengikuti kegiatan yang menurutnya bukan sekadar agenda keagamaan tahunan, melainkan ruang untuk mempererat hubungan antarsesama warga.
“Peringatan Maulid Nabi tahun ini sungguh membawa keberkahan dan kehangatan bagi kami. Momen ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan ajang mempererat tali silaturahmi antarwarga serta meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Hj. Khairunikmah. Ia berharap pesan-pesan keagamaan yang disampaikan dalam majelis tersebut tidak berhenti sebagai nasihat, tetapi dapat diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam menjaga kerukunan dan kepedulian terhadap sesama.
“Kami sangat bersyukur bisa hadir di majelis ini. Banyak nasihat berharga yang mengingatkan kita untuk selalu mengamalkan ajaran Nabi Muhammad SAW, terutama dalam menjaga kerukunan dan kepedulian terhadap sesama,” ujarnya.
Selain itu, Hj. Khairunikmah juga berharap pemerintah dapat membantu menjembatani proses legalitas Majelis Taklim Al-Muttaqien yang hingga kini belum terdaftar di Kementerian Agama (Kemenag).
“Kami berharap pemerintah dapat membantu menjembatani dengan pihak-pihak terkait, khususnya dalam proses legalitas majelis taklim yang saat ini belum terdaftar di Kemenag. Legalitas tersebut penting untuk mendukung keberlangsungan kegiatan serta pemenuhan kebutuhan dan fasilitas Majelis Taklim Al-Muttaqien,” tutupnya.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Mekarsari lembah Hijau pada akhirnya tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi refleksi bersama bahwa kemajuan teknologi perlu berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan, ukhuwah, dan kepedulian sosial.
Di tengah komunikasi yang semakin mudah secara digital, pesan utama kegiatan tersebut menjadi relevan: teknologi dapat mendekatkan yang jauh, tetapi silaturahmi secara langsung tetap menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang rukun dan berkeadaban.(*) NP.Hilman/red


















