Newsparameter.com|Semangat membangun budaya peduli lingkungan terus digelorakan warga di wilayah RW 10 Kelurahan Kalisari, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Bertempat di Jalan Sawit IV RT 13 RW 10, Sabtu, 23 Mei 2026, kegiatan sosialisasi Instruksi Gubernur (Ingub) DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang pengelolaan dan pemilahan sampah berlangsung meriah dan penuh antusiasme warga.
Kegiatan tersebut bukan sekadar sosialisasi biasa. Suasana kebersamaan begitu terasa ketika seluruh elemen masyarakat hadir dan menyatakan komitmennya untuk mulai membiasakan memilah sampah dari rumah. Mulai dari Ketua RW, para Ketua RT, kader Dasawisma, kader Jumantik, kader Posyandu, hingga ibu-ibu PKK memenuhi lokasi acara dengan semangat kebersamaan yang kuat.
Tagline yang diusung dalam kegiatan ini pun sederhana namun memiliki makna mendalam, yakni *“Mari Membiasakan Memilah Sampah dari Rumah.”* Kalimat tersebut menjadi pesan utama yang terus digaungkan kepada masyarakat sebagai langkah nyata menghadapi persoalan sampah yang semakin serius di Jakarta.
Ketua RW 10 Kalisari, Bambang Sasongko Nugroho, dalam sambutannya menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa lagi dianggap sebagai masalah kecil. Menurutnya, sampah merupakan tanggung jawab bersama yang harus diselesaikan melalui kerja kolektif seluruh komponen masyarakat.
“Persoalan sampah mesti diselesaikan bersama-sama dengan gotong royong seluruh komponen masyarakat. Diperlukan kesadaran bersama bahwa sampah adalah persoalan yang serius. Kalau dikelola dengan baik, sampah bahkan bisa menjadi sesuatu yang bernilai,” ujar Bambang di hadapan warga.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Lurah Kalisari, Siti Nurhasanah, S.E., yang memberikan apresiasi atas inisiatif warga RW 10 dalam mendukung program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Dalam sambutannya, Siti berharap gerakan memilah sampah dari rumah tidak berhenti hanya pada kegiatan sosialisasi semata, melainkan benar-benar menjadi budaya baru di tengah masyarakat.
“Saya berharap ini menjadi gerakan bersama yang nantinya membentuk budaya memilah sampah dari rumah. Kalau dilakukan terus-menerus, lama-lama akan menjadi kebiasaan warga. Kita ingin masyarakat Jakarta memiliki budaya disiplin terhadap sampah seperti di negara-negara maju,” kata Siti.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan warga di tingkat RT dan RW. Karena itu, peran kader PKK, Dasawisma, Jumantik, dan Posyandu dinilai sangat penting sebagai motor penggerak perubahan perilaku masyarakat.
Meski demikian, optimisme tetap terlihat dari berbagai pihak. Ketua RT 09 RW 10, Octavin Teddy Pastriyanto, menyampaikan keyakinannya bahwa perubahan pola pikir masyarakat dapat tercapai apabila dilakukan secara konsisten dan penuh kesabaran.
“Saya optimis bahwa dengan kesabaran dan kebersamaan, kebiasaan pengelolaan sampah dari unit terkecil di masyarakat akan berhasil. Memang tidak bisa instan, tetapi kalau terus diedukasi dan dicontohkan, masyarakat pasti akan terbiasa,” ujarnya.
Menurut Teddy, keberhasilan gerakan memilah sampah sangat ditentukan oleh keteladanan para pengurus lingkungan dan kader masyarakat. Karena itu, pihaknya siap terus melakukan pendekatan persuasif kepada warga agar gerakan ini benar-benar berjalan efektif.
Bagi warga, langkah kecil seperti memilah sampah ternyata membawa harapan besar. Selain membuat lingkungan menjadi lebih bersih dan sehat, pengelolaan sampah yang baik juga diyakini mampu mengurangi potensi banjir serta pencemaran lingkungan yang selama ini menjadi persoalan di Jakarta.
Kegiatan sosialisasi ini sekaligus menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari lingkungan kecil. RW 10 Kalisari mencoba menunjukkan bahwa membangun budaya peduli lingkungan bukan hal mustahil apabila seluruh elemen masyarakat bergerak bersama.(*)NP, Tim/rred


















