NewsParameter | Wamena – Penurunan pasokan beras dari Bulog (Badan Urusan Logistik) Wamena ke pasar sentral Jibama bisa menyebabkan kekhawatiran di kalangan masyarakat.
Perubahan kebijakan atau regulasi terkait impor atau distribusi beras bisa mempengaruhi ketersediaan di pasar.
Hal ini disampaikan oleh Manurung, Ketua Asosiasi Pasar, kepada media melalui telepon selulernya. Minggu (23/06)2024)
Penurunan stok cadangan beras ke pasar sudah sangat menurun, yang dulu setiap bulan Rumah Pangan Kita (RPK ) 40 ton perbulan sekarang tinggal 10 ton setiap bulan.
“Tiga tahun yang lalu setiap bulan kami menerima RPK 40 ton, sekarang sudah sangat menurun menjadi ton setiap bulan, kalau masyarakat serang kami apakah pihak Bulog bisa bertanggung jawab, ” katanya.
Hingga saat ini, kata Manurung, belum tau persis aturan dari pusat, apakah setiap bulan 10 ton RPK 40 ton
“Kami menduga ada permainan di lingkaran Bulog cabang Wamena, karena aturan pusat terkait berapa ton RPK untuk setiap belum kami belum ketahui, karena tidak ada kejelasan dari kepala Bulog, ” ujarnya.
RPK 40 ton pernah masuk sebanyak dua kali, namun sekarang entah kenapa ada perubahan.
“Saya sebagai ketua asosiasi mempertanyakan kepada Kepala Bulog, sebenarnya untuk RPK berapa ton setiap bulan, saya butuh transparansi dari kepala Bulog, karena masyarakat OAP rencana akan memblokir pasar centar Gibama, ” jelasnya.
Penurunan stok beras dampaknya bisa sangat signifikan bagi masyarakat, terutama karena beras adalah makanan pokok.
Untuk mengatasi kekhawatiran ini, pemerintah dan Bulog perlu segera menangani penyebab penurunan pasokan dan memastikan distribusi beras berjalan lancar.
(Redaksi)


















