Newsparameter.com | Manado — LSM Garda Timur Indonesia (GTI) melalui Ketua Umum Fikri Alkatiri menegaskan bahwa kericuhan yang terjadi di Desa Malompar, Kabupaten Minahasa Tenggara, tidak dapat dikategorikan sebagai konflik antar kelompok maupun antar umat beragama.
Menurutnya, insiden tersebut murni dipicu oleh ulah beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab dan tidak mewakili komunitas manapun.
Fikri menyampaikan keprihatinan mendalam atas berkembangnya berbagai narasi yang mengaitkan insiden tersebut dengan isu SARA.
Ia menilai bahwa penyebaran informasi yang memelintir fakta justru dapat memperkeruh suasana dan membahayakan kerukunan masyarakat di Sulawesi Utara, yang selama ini dikenal damai dan toleran.
Ia pun mengimbau seluruh pihak untuk bijak dalam menerima maupun menyebarkan informasi, terutama di media sosial.
“Jangan ada yang mencoba memanfaatkan insiden ini untuk mengadu domba antar warga maupun antar umat beragama. GTI menegaskan: ini bukan konflik agama, tapi ulah oknum. Kami meminta masyarakat tetap tenang dan menyerahkan penanganan kepada aparat penegak hukum,” tegasnya. Minggu, (30/11/2025).
GTI menilai langkah cepat aparat keamanan sangat dibutuhkan untuk mencegah isu liar berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Karena itu, Fikri mendorong kepolisian untuk segera mengusut para pelaku dan memastikan mereka diproses sesuai hukum yang berlaku.
Selain itu, GTI juga mengajak pemerintah daerah, tokoh adat, serta tokoh agama untuk turun tangan menjaga suasana tetap kondusif. Peran para pemimpin formal maupun informal dianggap sangat strategis dalam meredam ketegangan dan menjaga stabilitas sosial di masyarakat.
Fikri menegaskan bahwa Sulawesi Utara selama ini dikenal sebagai daerah dengan tingkat kerukunan dan toleransi yang tinggi, sehingga insiden yang terjadi tidak boleh disalahgunakan untuk membentuk sentimen negatif antar kelompok.
“Sulut dikenal sebagai daerah yang rukun dan toleran. Jangan biarkan oknum-oknum perusak memanfaatkan situasi untuk memecah belah,” ujarnya.
Dengan pernyataan tersebut, GTI berharap masyarakat tetap bersatu dan tidak terprovokasi. Mereka menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kondusivitas serta mendukung langkah aparat dalam menjaga keamanan dan ketertiban di Minahasa Tenggara.(*)


















