Newsparameter.com | Bitung – Puluhan anak muda Indonesia, termasuk delapan warga Bitung, kini terlantar di Kamboja setelah menjadi korban sindikat perdagangan manusia internasional.
Mereka saat ini berlindung di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kamboja, berharap dapat segera dipulangkan ke tanah air.
Para korban mengaku awalnya tergiur iming-iming pekerjaan dengan gaji besar oleh oknum tak dikenal. Namun, kenyataan pahit menanti mereka dipaksa bekerja tanpa bayaran, mengalami penyiksaan fisik, bahkan disetrum. Salah satu orang tua korban menuturkan, anaknya dan korban lainnya kini hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian.
Keluarga korban mendesak Presiden RI Prabowo Subianto, Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling, serta Wali Kota Bitung Hengky Honandar untuk segera turun tangan membantu kepulangan mereka.
“Kami mohon pemerintah segera bertindak, kasihan anak-anak kami,” ujar seorang orang tua korban dengan mata berkaca-kaca.
Relawan kemanusiaan di Kamboja, Christie Saerang, mengungkapkan bahwa para korban sudah berbulan-bulan terlantar di depan KBRI dengan kondisi mengenaskan. “Mereka makan seadanya dan tidur beralas kain tipis di trotoar,” katanya pada Selasa (11/3/2025).
Salah satu korban, SW, yang berhasil melarikan diri dari perusahaan tempat mereka dipekerjakan, mengaku dipaksa melakukan penipuan daring.
“Kami harus menipu orang lewat Facebook dan Instagram, menyamar sebagai wanita cantik untuk menawarkan investasi kripto dan saham palsu. Setelah mereka percaya, uangnya akan kami ambil,” ungkapnya.
Karena tidak tahan menjalankan aksi penipuan tersebut, SW nekat kabur meskipun risiko tertangkap sangat besar.
“Jika tertangkap, kami akan disiksa, bahkan dijual lagi ke sindikat lain,” tuturnya.
Saat ini, keluarga korban di Manado masih berjuang mencari jalan agar pemerintah segera turun tangan. Mereka berharap ada langkah konkret untuk menyelamatkan dan memulangkan para korban sebelum terlambat.(*)


















